Langsung ke konten utama

AKU, (SELEMBAR) KERTAS PUTIH

Karena aku hanya selembar kertas putih, yang hanya menangis ketika orang tuaku melahirkanku di bumi yang penuh dengan coretan warna-warni. Yang hanya bisa diam ketika Ibuku membelai rambut hitamku, yang hanya bisa meringis ketika sepasang tangan ayah mencoba menimangku dengan lembut. Yah aku tidak bisa menolak kehendak Tuhan.


Ketika ruhku mulai menjelma menjadi sepasang bola mata yang bulat, kaki-kaki mungil yang kuat, jemari tangan yang siap menerkam segala warna yang ada di bumi ini. Karena aku hanya selembar kertas putih, kertas putih yang siap memilih sejuta warna yang tersedia di hadapanku, sejuta warna yang kelak akan dinilai keindahannya oleh Tuhan, sejuta warna yang mungkin akan membawaku ke rumah Tuhan yang megah oleh semua kemewahan yang diciptakanNya. Atau bisa saja sejuta warna itu yang akan mengiringku secara perlahan di sebuah tempat kosong, tempat kosong yang tak pernah diimpikan oleh satu orang pun hamba Tuhan yang sholeh. Namun sepertinya kedua orang tuaku mengajariku bagaimana memilih warna-warna indah yang disukai Tuhan. Karena mereka begitu tau, aku hanya selembar kertas putih yang harus benar-benar dijaga agar tidak sembarang warna mampu menyentuhku.

Ayah mengajariku untuk menyukai warna hijau, karena ketika warna hijau itu tertoreh pada kehidupanku, aku akan senantiasa melakukan perintah Tuhan dan tak pernah lalai akan kewajibanku. Ibu mengajariku untuk menyukai warna biru, karena ketika warna biru itu mulai menyentuh kehidupan baruku ini, aku akan senantiasa menjadi anak yang pintar dan tenang, tak mudah emosi dan terpengaruh oleh hal-hal yang nantinya akan menjerumuskanku kepada tindakan yang akan membuat Tuhan benci padaku. Dan sepertinya, Tuhan mengajariku untuk menyukai warna jingga, yang perlahan akan membiasakanku untuk menebar cinta kepada orang-orang disekelilingku, terutama untuk kedua orang tuaku yang teramat baik, orang tua yang telah dipercayakan Tuhan untuk bisa menjagaku, mengajariku akan makna dari setiap warna yang diciptakan Tuhan di dunia ini.

Suatu ketika, Ibu membawaku ke sebuah tempat. Tempat yang dipenuhi anak-anak kecil seusiaku. Banyak mainan yang terlihat asyik disana. Dan Ibu mulai menjelaskanku secara perlahan. Bahwa tempat ini akan menjadi rumah keduaku. Seorang wanita cantik yang ada didepanku ini akan menjadi orang tuaku di tempat ini, dan yang paling menyenangkan, aku akan memiliki banyak teman, yah semua anak yang ada disekitarku itu akan menjadi saudaraku di tempat ini. Aku tersenyum mendengar penjelasan Ibu, ku bayangkan betapa menyenangkannya akan menjadi bagian dari barisan-barisan anak berseragam biru itu. Yah biru, ibu pernah megajariku untuk menyukai warna biru, agar aku senantiasa menjadi anak yang pintar dan tenang. Dan disinilah awal goresan warna biru itu dimulai. Goresan yang akan mengajariku bagaimana menjadi anak yang pintar dan membuat angan ibuku menjadi nyata. Menjadikan warna biru itu bersemayam dalam proses belajarku kini.

Akhir-akhir ini, aku sering merasa pusing yang begitu luar biasa, tapi tak ku hiraukan sama sekali. Aku begitu menikmati masa di Taman Kanak-kanak. Bermain, belajar dan mulai mengenal lingkunganku saat ini. Yah, aku masih selembar kertas putih. Namun kini ada warna biru yang tergores dalam lembaran hiduku. Aku begitu menikmatinya, menyelaraskan warna biru, hijau dan jingga dalam hari-hariku. Tuhan mengajariku bersyukur dengan kebahagiaanku kini, melihat Ibu bisa tersenyum dengan gambar pertamaku, membuatku begitu bersemangat untuk terus belajar. Karena aku tahu, ini belum apa-apa, dulu Tuhan pernah membisikkanku bahwa hidup tak selamanya tersenyum, kadang hidup itu jahat, merebut apapun yang sudah kita anggap menjadi milik kita, tepatnya milik Tuhan yang dititipkan untuk kita.

Pagi itu, aku sedang duduk di teras rumah. Menunggu Ibu yang akan mengantarku ke sekolah. Tapi dari balik pintu ruang tamu, ku lihat Ibu sedang menangis !. aku cemas bukan main, lalu dengan sigap aku berlari menghampiri Ibu. Namun sebelum aku sempat memeluk Ibu, Ayah terlebih dahulu menampar Ibu dihadapanku !. Ayah tak pernah mengajarkan warna ini kepadaku, warna apa ini, lalu kenapa warna ini seperti menyakiti Ibu. Aku geram bukan main, akupun menangis sekencang-kencangnya, aku tak mengerti dengan semua ini, karena aku hanya selembar kertas putih, kertas putih yang baru saja akan memilih warna yang pas untuk digoreskan pada tinta kehidupanku.

Melihat tangisanku, Ayah dan Ibu segera berlari menghampiriku, Ayah mendekap hangat sekujur tubuhku, seraya menatap nanar wajah Ibu yang terlihat sangat bersalah. Aku menangkap sedikit bisikan ayah pada telingaku, “kau akan baik-bik saja nak, Tuhan menyayangi gadis kecilku ini, Tuhan tak akan secepat itu mengambilmu”. Aku tak mengerti apa yang diucapkan Ayah tadi, warna yang Ayah ajarkan kini terlalu sulit untuk ku cerna. Yah karena aku hanya selembar kertas putih, kertas putih yang belum benar-benar megerti pikiran Ayah atau Ibu yang sudah mengoleksi banyak warna dalam hidup mereka. Aku hanya bisa mengangguk, seraya berusaha menghapus air mataku sendiri. Ku rasa, biar Tuhan yang kelak mengajariku semua hal yang belum ku mengerti dikehidupanku kini.

Sejak hari dimana Ayah menampar Ibu dihadapanku itu, kami sekeluarga lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit. Aku bingung, Ayah maupun Ibu tidak terlihat sakit. Tapi mungkin hanya Ibu yang selalu terlihat bersalah pada Ayah. Aku yakin ada kesedihan yang terlihat disudut mata Ibu dan Ayah. Tapi aku belum mengerti, karena aku hanya selembar kertas putih. Tapi kebiasaan Ayah dan Ibu yang rutin membawaku ke rumah sakit, membuatku merasa bosan. Lelaki tua berjas putih itu sudah terlalu sering menanyakan hal yang sama kepadaku, apa aku sering merasa pusing? Tidakkah aku merasa letih ketik baru sebentar berlari ditengah lapangan? Dan lain sebagainya. Dan aku juga sudah berkali-kali menjawab semua itu dengan jawaban “ya”. Hal yang membuatku bertambah geram, lelaki yang sering dipanggil dokter oleh Ayah itu tidak henti-hentinya menyodorkan selembar kertas bertuliskan nama-nama obat yang tidak ku mengerti. Aku tak menyukai warna ini, warna ini sangat mengusikku, dokter itu seperti mengajariku, bahwa ini adalah warna abu-abu. Bukan hitam, tapi jika warna abu-abu ini tetap setia bersamaku, mungkin kelak ia akan berubah menjadi hitam, hitam yang memilukan, hitam yang menyiratkan kekekalan, kegelapan dan kekosongan yang tak mungkin dapat dihapus oleh penghapus apapun. Dan aku merasa, warna hitam itu kian mendekatiku, yah aku mendengar percakapan Ayah dan Ibu, rupa-rupanya sebab Ayah kasar pada Ibu beberapa waktu yang lalu, karena Ibu menyimpan sesuatu, sesuatu yang tak bisa ku mengerti dari percakapan mereka tersebut, yah karena aku hanya selembar kertas putih, kertas putih yang hanya mampu mencerna warna-warna yang lumrah dan mudah dimengerti oleh logikaku.

Tuhan
Aku lelah dengan semua rasa sakit ini
Maafkan aku yang terlalu cepat mengeluh
Peluk aku sebentar saja Tuhan
Agar sakit yang ku rasa tak lagi mengekal

Sore itu, ku biarkan kerapuhan tubuhku tergeletak di sebuah ruang belajar Ayahku. Ada yang berbeda dengan hari-hariku kini, kedua kakiku tak bisa digerakkan. Dan aku harus ditemani sebuah kursi roda yang diberi hiasan bintang-bintang kecil pada besi-besi kursi roda itu. Namun seindah apapun kursi roda itu, ia tampak tetap mengerikan. Aku semakin tidak bisa menggerakkan kakiku. Dan perlahan tangan kananku juga terasa sangat berat untuk diayunkan. Dengan sisa tenaga dan dibantu tangan kirirku, ku buka sebuah buku tebal, yang sama sekali tak ku mengerti apa maksud dari deretan-deretan kata itu. Buku ini milik Ayahku, dan pasti Ayah sangat mengerti arti dari buku-buku ini, tapi tidak denganku. Karena aku masih selembar kertas putih, yang tak mampu memaksakan sesuatu yang memang belum pantas ku mengerti. Dan rasa sakit yang sekarang ku rasakan ini, mungkin juga memang belum pantas ku mengerti. Ayah dan Ibu tidak pernah berusaha menjelaskanku, mereka hanya tersenyum seraya memelukku dan berkata aku akan baik-baik saja. Tidak.. ! aku tidak baik-baik saja Ibu ! ingin ku lontarkan kata-kata itu, namun air muka Ibu yang terlihat begitu sedih dan capek, membuatku urung mengeluh didepannya.
Beberapa minggu kemudian, tepatnya saat ulang Tahunku yang ke 5, aku merasa semakin tidak bebas bergerak, lidahku mulai tidak bisa digerakkan, dan kamar rumah sakit, adalah kehidupanku kini. Aku rindu boneka-boneka dikamarku, namun aku tak mampu mengucapkan itu. Ayah dan Ibu hampir setiap saat selalu ada disampingku, dan Kau tahu Tuhan? Aku seperti melihat bayanganMu di dekatku.

Malam itu, Ibu membawakan sebuah kue besar berbentuk boneka Hello Kity kesukaanku dan disekelilingnya ada lilin-lilin kecil yang melingkarinya, dan  yang membuatku merasa sangat senang, ada teman-teman sekolahku yang ikut merayakan hari ulang tahunku. Tuhan aku merindukan sekolahku, bermain, belajar bersama teman-temanku. Ayah, Ibu dan teman-temanku bernyanyi selamat ulang tahun untukku, dan Kau tahu Tuhan? Ini seperti kado terakhir yang bisa ku dapatkan atas kehendakMu. Aku yang sudah beberapa hari yang lalu tidak mampu berbicara lagi, memaksakan mulutku untuk bisa mengeluarkan isi hatiku malam itu, dan Tuhan menunjukkan apa itu mukjizat pada malam itu. Dengan terbata-bata aku berterima kasih pada Ayah dan Ibuku, “Ayah, Ibu aku menyayangimu, terima kasih untuk malam ini” . ayah dan Ibupun memelukku dengan hangat, mengecup keningku, dan ada kehangatan yang ku rasakan malam itu, kehangatan yang tak elak membuatku begitu ringan, ringan hingga aku tak mampu lagi melihat sekelilingku. Aku tersenyum dalam tidur panjangku dipelukan kedua orang tuaku. Dan Tuhan, aku tahu Kau akan memelukku sekarang, membawa pergi rasa sakitku selama ini, mengajariku apa itu kebahagiaan disisiMu, dan membuatku mengerti bahwa aku milikMu seutuhnya, yang Kau titipkan pada kedua orang tuaku di dunia. Dan diakhir hayatku, Kau mengajariku satu warna lagi, hitam. Hitam yang mengekalkan, hitam yang mampu menutup lembar kertas putihku, hitam yang membawaku kembali padaMu, hitam yang mengajariku bahwa hidup tak selamanya abadi. Dan warna hitam ini, menyempurnakan dan menutup warna pada kertas putihku.
*Media Unram 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Panjang: LPDP, Sebuah Keisengan, dan Takdir Tuhan yang Tidak Terbantahkan

Semasa kuliah S1, saya sudah beberapa kali coba daftar beasiswa yang ujungnya kecewa alias gak lolos-lolos. Walaupun saat itu dengan sombongnya saya ngerasa sudah memenuhi kriteria awardee . Tapi kata Tuhan, itu bukan waktu yang tepat. Jadi saya sudah kebal dengan yang namanya gagal untuk urusan beasiswa.

23 Alasan Kenapa Kamu Tidak Bisa Memilih Kabur dari PB LPDP UM 2017

Bukan perkara mudah menyukai sesuatu yang sebelumnya tidak kau kenal. Kau terlebih dahulu harus mengetahui nama, wajah, perangai, suara, kegemaran, dan lainnya. Kemudian jika sudah sampai level atas, kau akan mulai mengenal tanda-tanda kehadiran seseorang hanya dari suara batuk atau langkah kakinya. 

Cerpen: Kota Tanpa Anak-anak

Sumber gambar: www.google.com      Desa kecil itu gempar oleh suara teri a kan seorang lelaki.   L elaki itu tidak hanya berteriak, ia juga berjoget-joget mengelilingi rumah tetangganya untuk mema m erkan berita kelahiran anaknya. Tetangga-tetangganya tentu gempar, selama sepuluh tahun, akhirnya ada juga penduduk D esa A yang berhasil melahirkan anaknya dengan selamat.