Sedikit
tulisan ringan di malam terakhir kunjungan kami di kota Palangka Raya.
Beberapa
hari ini kami sudah menikmati menjadi “orang Palangka Raya”. Kota yang biasa
juga disebut ‘kota cantik’. Yah kota ini memang cantik, secantik masyarakatnya
yang begitu taat aturan berlalu lintas, secantik lekukan merah, hijau, dan hitam
yang menjadi ciri khas kota ini. Banyak gedung besar yang berdiri di setiap
pinggiran kota. Gedung besar dengan arsitektur yang mengedepankan kebudayaan
kota ini. Rumah adat dan padanan kota yang cantik tentu menjadi daya pikat kota
tempat asal suku Dayak ini.
Berbicara
tentang masyarakat Palangka Raya yang begitu taat aturan berlalu lintas, kami
tidak menyebutkan hal itu dengan tanpa alasan. Jika teman-teman menyempatkan
diri memerhatikan masyarakat yang berkendara, terutama yang menggunakan
kendaraan roda dua, sangat patuh mengenakan helm. Bahkan pada malam hari,
dimana biasanya di kota-kota lain banyak masyarakat yang mengenakan helm hanya
karena takut ‘disapa’ oleh Polisi, masyarakat Palangka Raya menunjukkan hal
yang berbeda. Di sepanjang jalan, sangat jarang kita temukan Polisi yang
berpatroli atau berjaga di Pos pinggir jalan. Tapi justru, walaupun tidak
banyak Polisi yang berkeliaan, masyarakat setempat tidak menjadikan hal
tersebut sebagai alasan mereka tidak mematuhi peratuan lalu lintas. Penataan
kota yang baik dan disertai kesadaran masyarakat tentang keselamatan
berkendara, membuat kota ini tidak salah dijuluki ‘kota cantik’.
Selain
mengamati keindahan berlalu lintas di Palanka Raya, atau pohon karet yang
banyak tumbuh di pinggir jalan kota, kami sempat mendatangi tempat yang paling
terkenal di kota ini, apa lagi kalau bukan jembatan Kahayan. Jembatan yang
sudah dibangun sejak tahun duaribuan itu kini menjadi sentral pariwisata di
kota ini. Bukan hanya karena keindahan arstektur jembatan Kahayan yang menjadi
daya pikatnya, tapi juga sungai Kahayan yang membentang luas di bawah jembatan
Kahayan.
Kebetulan,
kami juga sempat menyusuri sungai Kahayan dengan mengenakan perahu yang memiliki
dua lantai. Kabut asap menjadi sesuatu yang wajib terlihat di sekitar sungai
ini. Air sungai yang cokelat dan kealaman sungai yang mencapai 7 meter menjadi
identitas sungai ini. Hal yang menarik saat mengarungi sungai Kahayan adalah
ketika kami mengarahkan pandangan di sebelah barat sungai, akan ada banyak
rumah lanting yang terapung di bantaran sungai Kahayan. Akan ada banyak anak
kecil yang menghabiskan waktu sore mereka untuk bermain air dan berenang di
sungai yang serupa susu cokelat itu. Akan ada banyak penduduk yang mandi di
bantaran sungai, dan yang menjadi hal menarik, akan ada banyak lelaki maupun
wanita yang membelah keheningan Kahayan dengan perahu Tektek yang biasa di
gunakan masyarakat bantaran sungai untuk transportasi laut, memancing ikan atau
sekedar menghabiskan waktu untuk bercengkrama dengan Kahayan.
Awalnya
kami begitu menikmati pemandangan ini, sampai banyaknya sampah yang mengapung
di badan sungai sedikit merusak kebersihan Kahayan. Tidak hanya sampah, saat
kami menyisir sungai, pemandangan yang menyayat langsung terlihat, bagaimana
tidak, banyak lahan di bantaran sungai tampak kering dan sebagian gosong. Hal
itu terjadi karena seringnya masyarakat setempat menggunduli lahan dengan cara
membakar lahan tersebut. Tidak heran kabut asap tetap menjadi icon tempat ini.
Bahkan beberapa wisatawan yang tidak tahan dengan kepulan asap menggunakan
masker untuk melindungi pernapasan mereka.
Belum
lagi saat kami mengunjungi ‘Pasar Besar’ sekitar dua kilometer dari sungai
Kahayan. Pagi itu kami baru saja turun dari kendaraan, hendak membeli oleh-oleh
untuk beberapa orang yang kami ingat di Lombok. Tiba-tiba kepulan asap
mengalihkan perhatian kami. Asap itu sangat besar, tentu telah terjadi
kebakaran hutan lagi. Tapi yang menjadi perhatian kami lagi adalah sikap
masyarakat di sana yang biasa-biasa saja, tak ada kepanikan sedikitpun. Mungkin
melihat kami yang histeris justru lebih membingungkan daripada kepulan asap
kebakaran hutan itu lagi. Mereka terlalu terbiasa.
Sungguh
ironis jika peristiwa sebesar itu justru dianggap biasa-biasa saja. Bagaimana
kepedulian masyarakat terhadap lingkungan? Bukankah jika itu terus dibiarkan
akan menyebabkan wabah penyakit juga untuk masyarakat? Menurut pernyataan
masyarakat sekitar, kebakaran hutan terjadi karena memang setiap masyarakat
yang akan membuat ladang di hutan Kalimantan yang lebat itu, akan cendrung
menggunakan pembakaran agar lahan tersebut kosong dan bisa digunakan bercocok
tanam.
Jika
menebang atau menggali seperti biasa, katanya akan membutuhkan waktu yang lama.
Tapi tidakkah waktu yang cepat ini juga akan membunuh dengan cepat? Tidak hanya
kesehatan masyarakat yang terganggu, tapi juga berimbas pada binatang-binatang
di hutan Kalimantan yang luas itu, akan ada banyak tumbuhan yang gagal
berkembang, akan ada banyak ikan sungai yang tercemar, dan yang paling penting,
tidak banyak kesempatan hidup layak yang akan kita berikan pada anak cucu kita
kelak.
Kota
cantik itu kini menangis, melihat kepulan asap tak jenuh mengelilinginya.
Haruskah
kita tunggu hingga Kalimantan ini rata dengan tanah kosong dan juga kepulan
asap yang membunuh? Haruskah kita biarkan anak-anak kelak tidak lagi bernafas
dengan oksigen, tapi justru dengan kepulan asap? Haruskah? Jika memang harus,
silahkan kita menjadi penonton hebat saja, penonton yang duduk manis seraya
berkomentar besar tentang masa depan bumi kita, tentang ketidak pastian akan
adanya kehidupan di hari-hari berikutnya.
Palangka
Raya, 17 September 2014. Pukul 23:08 WIB.
Komentar
Posting Komentar