Langsung ke konten utama

Catatan Iseng Anak Bahasa

Tentang Sesuatu yang Tak Terkonsepkan dan Justru Lebih Indah

Hal yang sama dan terkonsepkan itu memuakkan!
Tak ada yang lebih manis dari hujan di pagi hari. Membangunkan lembut dan perlahan kedua katup mata yang tertutup rapat. Tapi ini seribu kali lebih menyenangkan daripada bunyi alarm telepon genggam yang terkutuk itu. Decitan suara air yang mencoba menerobos masuk dari atas genteng yang tertata rapat, suara hembusan angin yang membawa aura dingin yang akh! Tuhan memang tahu bagaimana kenikmatan yang tak mampu diciptakan oleh otak konyol manusia.
Tentang hujan di pagi Sabtu, tentang hati yang tertata baik untuk menyambut siapapun hari ini, tentang jam kuliah yang padat dan menyesakkan hari, dan tentang kemungkinan-kemungkinan jam kuliah itu akan terkikis karena nyanyian hujan di pagi ini.
Akh rupanya akal busukku tentang jam kuliah yang terkikis itu sedikit mendapat hentakkan dari suara petir yang tiba-tiba merobek kehalusan hujan di pagi ini. Jadi petir itu mungkin ibarat hati dosen yang begitu murka dengan kedatangan hujan di pagi hari. Tapi tunggu dulu, mungkin saja dosen itu justru sama bersyukurnya dengan mahasiswa-mahasiswa malas yang mengagung-agungkan hujan di pagi ini, yang berdoa panjang, mungkin sama panjangnya akan waktu turunnya hujan.
Sebelum luput dan terbuai dengan berkah hujan di pagi hari, aku ingin sedikit menyapa kedua orangtua dan kekasihku. Selamat pagi Bapakku yang gendut, selamat pagi ibuku yang cantik, selamat pagi kekasihku yang menyebalkan.
Berbicara tentang kekasihku yang menyebalkan, tidak ia tidak benar-benar menyebalkan (seharusnya). Tapi baiklah, mungkin perempuan menyebalkan sepertiku memang ditakdirkan untuk menghadapi lelaki menyebalkan sepertinya. Sebenarnya bukan itu yang menjadi focus pikiranku pagi ini, tentang kebiasaan baru hujan dan kekasihku. Baik, ku samakan saja dua ruang yang manis ini.
Otak kecilku memang selalu terbiasa membatasi hal-hal indah hanya dengan sesuatu yang sering ku sapa. Dan bodohnya kurang menerima hal baru yang sebenarnya tak kalah indah, tunggu dulu, mungkin hanya butuh penyesuaian. Sederhananya, kusamakan saja kepribadian kekasihku dengan musim yang tak terjadwalkan dengan benar.
Jika orang merekonstruksi puisi Sapardi Djoko Damono “Hujan Bulan Juni”, mungkin akan timbul pemikiran tentang bagaimana mungkin akan turun hujan di bulan juni? tapi hey tunggu dulu! Pemikiran itu mungkin untuk beberapa orang yang terlalu taat akan aturan yang benar-benar membagi musim menjadi dua bilah yang sama rata. Buktinya, bumi mulai mempermainkan hitungan manusia itu, hujan turun kapan saja mauNya, hujan turun tidak mengenal waktu.
Jika celotehan anak jenius yang mengatur janji untuk bertemu hanya karena kebiasaan hujan, mungkin sebaiknya aku tidak harus menjadi bagian dari anak jenius itu, yang terlalu biasa dengan hal-hal yang terjadwalkan dan lumrah. Yang mudah termakan dengan kebiasaan manis yang menutup kebiasaan lain yang lebih manis.
Aku sedikit ingin menarik perkataanku pada kekasihku kemarin malam, tentang bagaimana hal baru itu memuakkan dan bisa menimbulkan perpecahan. Begini, mungkin tidur panjangku semalam dan alarm hujan di pagi ini sedikit memberiku pemahaman sederhana, cobalah semua hal yang kau mau, jangan terlalu membiasakan ia terjadwal seperti biasanya, karena itu pasti membosankan. Seperti hujan di pagi ini, ia yang biasa hanya turun di siang dan malam hari justru terasa lebih manis karena menerobos turun di pagi hari. Ia mengawali sesuatu yang baru dan menghancurkan pemahaman tentang hal yang biasa dan terkonsepkan itu akan lebih indah, ia benar-benar merusak pemahaman akan itu. Turun di waktu yang tak sama atau bersikap tak sama di waktu yang lain mungkin akan butuh penyesuaian, tapi jika itu membuat segala hal menjadi lebih baik, lakukan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Panjang: LPDP, Sebuah Keisengan, dan Takdir Tuhan yang Tidak Terbantahkan

Semasa kuliah S1, saya sudah beberapa kali coba daftar beasiswa yang ujungnya kecewa alias gak lolos-lolos. Walaupun saat itu dengan sombongnya saya ngerasa sudah memenuhi kriteria awardee . Tapi kata Tuhan, itu bukan waktu yang tepat. Jadi saya sudah kebal dengan yang namanya gagal untuk urusan beasiswa.

23 Alasan Kenapa Kamu Tidak Bisa Memilih Kabur dari PB LPDP UM 2017

Bukan perkara mudah menyukai sesuatu yang sebelumnya tidak kau kenal. Kau terlebih dahulu harus mengetahui nama, wajah, perangai, suara, kegemaran, dan lainnya. Kemudian jika sudah sampai level atas, kau akan mulai mengenal tanda-tanda kehadiran seseorang hanya dari suara batuk atau langkah kakinya. 

Cerpen: Kota Tanpa Anak-anak

Sumber gambar: www.google.com      Desa kecil itu gempar oleh suara teri a kan seorang lelaki.   L elaki itu tidak hanya berteriak, ia juga berjoget-joget mengelilingi rumah tetangganya untuk mema m erkan berita kelahiran anaknya. Tetangga-tetangganya tentu gempar, selama sepuluh tahun, akhirnya ada juga penduduk D esa A yang berhasil melahirkan anaknya dengan selamat.