Sumber Gambar: www.google.com
Dunia tanpa kata. Aku tak pernah berpikir bagaimana
jadinya dunia ketika tak mengenal kata. bisakah gadis-gadis cantik itu terpikat
hanya dengan melihat ketampanan atau kesederhanaan pria? Bisakah para pencari kebenaran
mendapatkan kepastian ketika dunia mulai beralih fungsi menjadi papan kosong
yang menyisakan tanda tanya?
Dunia tanpa kata. Banyak orang merasa bising dengan
suara keras yang muncul dari celotehan-celotehan ajaib sesamanya. Tapi
pernahkah seorang yang bercengkrama atau sekedar bergumam menghitung berapa
kata yang keluar dari getaran pita suara mereka setiap hari? Baiklah, mungkin
akan terlalu berat jika kita berbicara tentang hari. Lalu pernahkah seseorang
menghitung berapa kata yang keluar dari getaran pita suara mereka di setiap
menit?
Dunia tanpa kata. Hal yang tidak mungkin itu kadang
bisa saja menjadi mungkin ketika Tuhan mulai menunjukkan kebesarannya untuk
membuka mata hati ummatnya. Dan aku merasakan itu sekarang. Dulu kata Ibu,
orang tak akan mengerti apa yang kita mau jika mulut kita hanya terkunci tanpa
melepas kata apapun. Tapi kini ucapan Ibu itu justru menjebakku. Aku masih
menimbang berapa kata yang mampu ku ucapkan. Aku sangat ingin mengucapkan
frase-frase yang coba ku susun dengan tanganku. Tapi entahlah, hal yang
mustahil itu masih saja mengikatku, usaha dan kemauanku masih terbentur dengan
ketidak pastian yang selalu menari-nari di otakku.
Dunia tanpa kata. Dunia itu luas, dan kata itu
seluas dunia yang menampungnya. Bisakah dunia merasa sesak dengan deretan kata
yang setiap hari terucap dari jutaan manusia? Atau masih adakah ruang bagi
hembusan angin yang ingin melantunkan syairnya di keheningan malam?
Dunia tanpa kata. Aku hidup di dunia tanpa kata.
Walaupun telingaku sudah tidak asing bahkan selalu mendengar deretan kata yang
terucap dari suara-suara orang lain. Tapi keterbatasan membuatku tetap sendiri
dan menari-nari bak pigura yang bersenandung, pigura yang seakan teratawa tapi
tak tertawa, pigura yang seakan bernyanyi tapi tak bernyanyi, pigura yang
melepas penatnya dengan menggantungkan katanya pada ruang kosong yang tak
tergapai.
Dunia tanpa kata. Aku melepas penatku pada sisi
gelap yang hanya mampu dilihat oleh kedua bola mataku. Mungkin aku akan merasa
senang ketika seseorang mampu memasuki ruang gelap yang ku maksud. Karena
memang sangat tidak menyenangkan hidup dengan keterbatasan cahaya pada
dinding-dinding tempat tanganku meraba.
Dunia tanpa kata. Aku bertemankan gelap, hanya gelap
yang ada disekitarku. Bukan lampu atau lilin, hanya butuh terus berjalan dan
menemukan dinding di ruangku, kemudian mencari pintu dan keluar.
Dunia tanpa kata. Mungkin Tuhan telah membuat ruang
khusus dan spesial untukku, hanya untukku. Kadang rasa sepiku terobati dengan
kesunyian ruang yang menampungku. Membuat sisi gelap yang tak menampakkan
ketidak berdayaanku. Aku bertemankan kegelapan. Mungkin hal itu bisa dikatakan
aneh. Tapi Tuhan telah menyulap apa yang kata orang merupakan hal yang
menyedihkan menjadi sesuatu yang berharga, sesuatu yang justru bisa mengerti
aku yang sekarang.
Dunia tanpa kata. Aku tak seperti anak-anak lain
yang mampu mewujudkan apa yang mereka inginkan dengan merangkai kata-kata yang
dengan mulusnya bisa keluar dari katupan-katupan bibir mereka. Dan aku masih
saja bertahan pada ruang sempit yang diciptakan Tuhan hanya untukku. Ketika
banyak orang dengan ibanya mengatakan tempatku sempit, aku masih saja
mengatakan tempat yang dikatakan sempit ini indah.
Dunia tanpa kata. Kadang rasa syukur itu mahal.
Ketika kebahagiaan yang kita dapatkan sebanding atau bahkan lebih besar dari
pengorbanan, maka rasa syukur itu mudah terucap. Tapi ketika apa yang kita
korbankan tidak setimpal dengan apa yang kita dapatkan, kadang rasa syukur itu
entah hilang kemana. Tapi aku belajar dari Ibuku. Kata Ibu, Ia tetap bersyukur
memiliki anak sepertiku, walaupun menurutku dan kebanyakan orang pasti sangat
sulit mengurus anak dengan keterbatasan sepertiku. Tapi kata Ibu, jangan hanya
melihat sesuatu dari satu sisi saja. Ketika kita tidak melihat hal yang indah
pada suatu sisi, maka carilah sisi lain yang bisa menampakkan kebahagiaan yang
sesungguhnya.
Dunia tanpa kata. Banyak orang tidak merasa bahagia,
karena memang kebahagiaan yang dicari selalu terbatas pada sisi yang terlihat
saja. Kadang apa yang tersembunyi dan sulit dicapai itu justru lebih istimewa
dari apa yang mudah terlihat oleh kasat mata. Dan aku percaya akan kebahagiaan
besar yang belum terlihat itu. Semua orang memiliki sisi lebih dan kurangnya
masing-masing. Tidak ada timbangan yang terbuat dengan satu sisi lebih ringan
dari sisi yang lain. Walaupun satu sisi timbangan yang terisi dengan beban bisa
lebih berat daripada sisi timbangan yang satunya. Tapi yang aku tahu, timbangan
akan tetap seimbang jika ia bisa menyingkirkan beban yang ia pikul.
Dunia tanpa kata. Banyak manusia yang gemar menipu,
tapi tak ada manusia yang sadar ketika Ia sedang ditipu. Aku bisa saja
dikatakan menyedihkan dengan kebisuan yang ku alami, dan semua orang tahu itu.
Tapi tidakkah lebih menyedihkan memiliki alat ucap yang sempurna tapi tidak
mampu mempergunakannya dengan benar?
Dunia tanpa kata. Kadang kita menganggap penyesalan
itu hal terkonyol yang selalu terualang dalam tapakan-tapakan hari kita. Tapi
kelak kita akan berpikir. Tidak ada yang lebih baik dari apa yang kita anggap
terburuk hari ini. Dulu aku pernah menyesali hidupku, tapi kini aku menyadari,
ketika Tuhan menanyakan kesanggupanku atas perjanjian hidup sebelum aku
dilahirkan di dunia, dan aku menyanggupi segala hal yang Tuhan tawarkan, itu
adalah pilihan terbaik.
Dunia tanpa kata. Kau mungkin akan bingung ketika
membaca ceritaku ini, karena aku memiliki kata-kata itu dalam duniaku. Dan kau
mungkin tak memiliki kata-kata itu dalam duniamu. Kau tak harus membingungkan
dirimu sendiri, yang harus kau lakukan hanya mencoba memasuki duniaku.
Dunia tanpa kata. Zona nyaman itu memang
menyenangkan. Tapi terlena pada zona nyaman itu bisa saja menjerumuskan. Kau
mungkin tahu asyiknya bermain game setiap hari. Tapi ketika kau tersadar dari
duniamu itu, kau akan mulai menyesali detik-detik yang terbuang begitu saja
karena keberadaanmu di zona nyaman yang kau buat.
Dunia tanpa kata. Aku merasa aneh ketika menulis
ceritaku ini. Aku berpijak pada kalimat “Dunia Tanpa Kata,” tapi sudah ratusan
kata yang terangkai dari hasil jerih payah otakku. Dan sekarang, yang aku tahu,
tak perlu memaksa keterbatasanku dalam berbicara untuk menyampaikan apa yang
aku rasakan. Karena kedua tanganku masih utuh dan tetap setia membantu
menyampaikan apa yang otak ingin sampaikan.
Dunia tanpa kata. Ketika kita berpikir tentang dunia
tanpa kata, mungkin dunia itu sudah tidak ada. Karena “dunia” tersusun dari
deretan huruf yang menjelma menjadi kata sederhana namun bermakna. Ketika dunia
tidak lagi menampung kata, Ia akan sunyi, kemudian mati. Karena apa yang kita
anggap dunia sekarang ini, adalah bentukan dari kata yang menjelma menjadi
tempat yang mampu menampung orang-orang dengan tingkat produksi kata yang tidak
sedikit. Tidak perlu memikirkan “apa yang akan terjadi ketika dunia tanpa kata?”
Karena dunia tanpa kata, tidak akan pernah ada.
*2013
.jpg)
tulisan nya bagus
BalasHapusterimakasih sudah baca ya :)
BalasHapus