Teruntuk kekasihku yang paling
pintar tersenyum, Kasyful Fahmi.
Selamat
dini hari sayang, senang bisa menyapamu lewat surat ini. Bagaimana keadaanmu?
Setahuku kau akan tetap sehat dengan mata pandamu itu. Bagaimana kalau ku sebut
saja ini pagi. Pagi buta dimana aku duduk sendiri di sudut kamar tidurku yang
kecil, membayangkan kau mendekapku erat seraya berbisik tentang kata-kata rindu
yang selalu kau perdengarkan kecil di telingaku. Kau tahu? Disaat kau berbisik,
kalimatmu jauh terasa lebih tulus.
Sayang,
ini mungkin surat pertamaku untukmu. Konyol jika mengingat kau yang sering
merajuk untuk dibuatkan surat oleh kekasihmu yang teramat senang melihat
tingkahmu yang merajuk itu. Sebenarnya aku juga sedikit bingung harus menulis
apa di surat untuk kekasihku ini. Karena kau sudah tahu sendiri bagaimana aku
begitu menyayangimu. Yah terkadang jauh melebihi rasa sayangmu padaku. Ku
pastikan kalimatku sebelumnya, karena memang bukan karena paras atau logika
mengagumkanmu itu yang menimbulkan rasa sayang yang begitu besar. Sederhana,
hanya saja aku tidak menemukan alasan lain untuk tidak menyayangimu sebesar
ini.
Sayang,
sekarang aku tidak sedang gombal atau berencana membuatmu terperangah. Karena
bukan itu tujuan dari surat pertamaku untukmu ini. Sekarang di hand phone, jam
menunjukkan pukul 03.53. Kau tahu? Aku biasa menulis jujur pada waktu-waktu
seperti ini.
Sekarang
aku sedang berpikir dan sedikit menangis di ruangan pengap. Kau mungkin akan
marah jika mendengar aku yang teramat mudah untuk menangis. Tapi tunggu dulu
sayang, kadang tangisan bukan lambang ketidaktegaran, saat seseorang benar-benar
bahagia, bukan selebar apa senyumnya, tapi bagaimana air mata bisa saja
tiba-tiba menerobos di sela-sela sepasang matanya.
Mengapa
Tuhan begitu baik padaku? Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan bisa bertemu
orang sepertimu. Berbagi waktu dan cerita konyol yang membingungkan. Kenapa
membingungkan? Karena setiap kau membagi kisahmu, apa pun alur dan genrenya, aku
selalu merasa bahagia. Mungkin benar, berbicara dengan orang yang tepat dalam
hidupmu, akan membuat waktu tak memberi cela untuk tidak merasa bahagia.
Sayang,
entah bagaimana Tuhan mempertemukan kita, mungkin selumnya kita pernah
berpapasan, tapi tak saling menyapa. Sejak pertama berkenalan denganmu, aku
memang menaruh rasa kagum, tapi tak pernah berpikir sedikitpun tentang kagum
yang ternyata merupakan tanda jejak awal akan tempat kita berdiri sekarang
sayang. Jika aku bukan manusia tolol yang selalu telat menyadari tentang
takdir-takdir yang kelak menyapa, mungkin saat itu ku rebut saja kau dari
kekasihmu yang terdahulu, kemudian dengan gila menyadarkanmu tentang aku lah
yang kelak akan mendampingimu. Membayangkan hal itu mungkin akan mengerikan
sayang, kau akan kebingungan dan mengiraku gila. Tapi sungguh, jika aku bukan
manusia tolol, aku tak hanya ingin memiliki masa sekarangmu, tapi juga masa
lalumu.
Tapi
apa benar aku menginginkan masa lalumu? Tidak, mungkin aku lebih menginginkan
masa depanmu. Kelak, aku ingin menjadi wanita pertama yang menyapa pagimu, menyiapkan
sarapan di meja makan kita, menyetrika pakaian kerjamu, menyapu halaman rumah
kita, mencuci berbak-bak pakaian kotormu, dan yang terpenting menjadi ibu yang
baik bagi anak-anakmu. Membayangkan hal-hal itu sedikit meluluhkan keinginan
egoisku untuk dapat memiliki masa lalumu. Begini saja sayang, kau berhak
memiliki masa lalumu, aku juga berhak memiliki masa laluku. Tapi bisakah kita
sedikit berjanji? Berjanji untuk menempatkan satu-satunya kursi untuk masa
depan kita? Satu kursimu itu untukku, dan satu kursiku itu untukmu. Bisakah
kita melakukan itu?
Janji
manusia memang tak pernah benar-benar pasti. Tapi membuat janji yang tak pasti
itu juga ibarat mencanangkan harapan, dan bukankah manusia tak bisa hidup tanpa
harapan? Seperti halnya aku yang begitu berharap pada Tuhan akan adanya kau di
masa depanku.
Sayang,
aku sedang mencintaimu. Jika aku makhluk yang bisa membuat takdir sendiri, aku
akan mengatakan bahwa aku sedang dan akan tetap mencintaimu. Sayang, aku akan
gila jika memikirkan mengapa aku begitu mencintaimu, aku sedang mencari alasan
pasti agar ketika kau bertanya, aku bisa mengeluarkan kalimat luar biasa
meyakinkan. Tapi apa benar aku harus menemukan alasan mengapa aku begitu
mencintaimu? Apakah cinta membutuhkan alasan? Mungkin tidak sayang, karena jika
cinta membutuhkan alasan, ketika alasan itu hilang, cinta mungkin akan hilang
bersamanya.
Sayang,
ku tutup dulu surat pertamaku ini. Tetaplah menjadi kekasihku yang seperti
sekarang, ini hanya harapan wanita lemah yang terlalu terbiasa bersamamu.
Solatlah tepat waktu, kuliahlah yang rajin, dan teruslah menulis. Salam hangat
dan rindu.
Dari kekasihmu yang kadang masih
saja kekanak-kanakan, Marlinda Ramdhani.
Mataram,
26 Desember 2014
Pukul
04.35 WITA
hem
BalasHapushaha kenapa bang? :D
BalasHapus