Langsung ke konten utama

Tentang Malam Tahun Baru di Kamar yang Menjemukan

Sumber gambar: www.google.com

Dorong saja mereka yang merenggut kebebasanmu, haha tapi tunggu dulu, tak mungkin ku dorong Ibu karena tidak memberi izin untuk ku habiskan malam tahun baru bersama teman-teman Media. Bukankah itu mengerikan? “seorang anak aneh mendorong ibunya dikarenakan tidak diberi izin tahun baruan.” Jujur itu lead berita yang mengerikan. Akan ada namaku sebagai tersangkanya, mungkin juga hanya inisial namaku yang tertera diberita itu. Jadi untuk menghindari kejadian yang mengerikan itu, ku putuskan untuk menjadi tokoh baik yang telalu memuja peran protagonis dalam scenario menyebalkan ini.
Sebenarnya, aku bukan tipe orang yang mengagung-agungkan tahun baru, bukan sama sekali. Kesalku sekarang bukan karena tidak bisa meniup trumpet bersama orang-orang dengan garis kewarasan yang hampir sama itu, hanya saja mungkin akan sangat menyenangkan bisa menghabiskan malam bersama mereka di detik-detik menuju gerbang peradilan akhirat (baca: ujian akhir semester) yang sebentar lagi menampar tiap detik di jam dindingku.
Tapi pada akhirnya, karena perempuan sholehah ini begitu berhati mulia dan mengenaskan. Ku habiskan malam pergantian tahun di kamar yang menjemukan ini. Seraya menyiksa laptop kecilku dengan tulisan-tulisan menyebalkan yang tak mengindahkan rasionalitas.
Begini, sepertinya rasa haus mulai menggrogoti kerongkonganku sekarang. Tapi berhubung aku dalam adegan tidak akan menyapa siapapun di rumah ini, maka ku siksa saja kerongkongku untuk tidak sama sekali meneguk apapun, sekalipun air keran. Harga diriku masih mahal, dan mungkin akan banting harga jika mulai larut malam (karena tidak mungkin terus menahan haus di kamar ini).
Oya, agar kamar ini sedikit menyenangkan, bagaimana jika kita berimajinasi saja sekarang. Ku katakan kita karena kau yang membaca catatan ini juga harus masuk dalam rencana menyedihkanku ini.
Baik, kita mulai dengan membayangkan seember ikan yang sudah dibersihkan, menusuknya dengan bambu kecil dan memanggangnya diperapian dengan dioleskan bumbu ikan yang pedas (ku pilih rasa pedas untuk mengelukan lidahku yang sedari tadi sabar tidak berucap apa-apa). mari kita memanggang ikan disini. Ah kau ingin sepiring nasi hangat juga? Tunggu, ku ambilkan nasi hangat yang tiba-tiba ada di sampingku. Jika kau tak juga berkata ingin segelas es segar, ku putuskan untuk mengambil gelas bagianmu sekarang juga. Mari kita menikmati makan malam ini.
Wow, apa kita harus menyusupkan kembang api di katup mulut ikan ini? Atau petasan di dalam perut ikan ini? Yah itu akan mendaruratkan tidak hanya perasaan tapi juga nyawa kita. Jadi mari kita nikmati saja deru petasan dan kembang api dari balik jendela kamarku ini. Sembari menertawakan orang-orang yang memang harusnya kita tertawakan. Atau menertawakan diri sendiri? Ah ide bagus, karena studi menunjukkan bahwa “berbicara dengan diri sendiri membuat anda lebih pintar,” dan kutambahkan saja, “tertawa sendiri membuat anda tampak meyakinkan  untuk dikatakan benar-benar gila.”

Selamat tahun baru, mari tidak sedih dan terlalu bahagia. Karena dibalik kemeriahan malam tahun baru di tempatmu sekarang, masih ada fakir-fakir kebebasan yang menangis haru di balik jendela kamarnya.
Rabu, 31 Desember 2014.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Panjang: LPDP, Sebuah Keisengan, dan Takdir Tuhan yang Tidak Terbantahkan

Semasa kuliah S1, saya sudah beberapa kali coba daftar beasiswa yang ujungnya kecewa alias gak lolos-lolos. Walaupun saat itu dengan sombongnya saya ngerasa sudah memenuhi kriteria awardee . Tapi kata Tuhan, itu bukan waktu yang tepat. Jadi saya sudah kebal dengan yang namanya gagal untuk urusan beasiswa.

23 Alasan Kenapa Kamu Tidak Bisa Memilih Kabur dari PB LPDP UM 2017

Bukan perkara mudah menyukai sesuatu yang sebelumnya tidak kau kenal. Kau terlebih dahulu harus mengetahui nama, wajah, perangai, suara, kegemaran, dan lainnya. Kemudian jika sudah sampai level atas, kau akan mulai mengenal tanda-tanda kehadiran seseorang hanya dari suara batuk atau langkah kakinya. 

Cerpen: Kota Tanpa Anak-anak

Sumber gambar: www.google.com      Desa kecil itu gempar oleh suara teri a kan seorang lelaki.   L elaki itu tidak hanya berteriak, ia juga berjoget-joget mengelilingi rumah tetangganya untuk mema m erkan berita kelahiran anaknya. Tetangga-tetangganya tentu gempar, selama sepuluh tahun, akhirnya ada juga penduduk D esa A yang berhasil melahirkan anaknya dengan selamat.