Sumber gambar: www.google.com
Untuk
lelakiku yang paling penyabar
Assalamualaikum,
selamat malam sayang. Senang bisa menyapamu lewat surat lagi. Bukankah kini aku
sudah mulai menjelma menjadi gadis pengirim surat yang teramat rajin menyapamu
yang akhir-akhir ini banyak cemberut? Tersenyumlah sayang, sedikit saja. Bukankah
Tuhan yang baik telah menganugerahkan senyum manismu untuk kau tunjukkan? Jangan
simpan terlalu lama, nanti ia basi dan tak enak dipandang.
Oya,
tiba-tiba saja saat surat ini sampai di paragraph kedua, hujan tiba-tiba saja
turun. Rupanya Tuhan tak membiarkanku menulis surat ini sendiri. Jika kau
marah-marah atau masih saja cemberut hingga sekarang, akan ku minta hujan ini
menemanimu juga. Tapi katanya, ia tak ingin menemanimu, kau tahu kenapa? Karena
kau masih saja cemberut dan menampakkan wajah menyebalkanmu itu, jika kau ingin
hujan menemanimu juga malam ini, tersenyumlah.
Sebelumnya,
terimakasih atas balasan suratmu dua hari yang lalu. Senang akhirnya membaca
tulisanmu kembali. Mungkin tanpa kau sadari, tulisanmu terasa lebih rapi
daripada suratku sebelumnya. Ia penuh dengan kata-kata yang bermanfaat, lantas mengaitkannya
juga dengan kisah percintaan Khalil Gibran dan Mai Zaidah yang romantis itu. Sungguh
aku belum pernah mendengar kisah mereka, lantas terimakasih telah sedikit
menceritakannya untukku.
Tapi,
bolehkah aku sedikit merajuk? Mungkin seperti katamu aku bisa saja ngambul
seperti kebiasaanku. Tapi kali ini aku hanya akan sedikit mengutarakan
perasaanku membaca suratmu. Aku tak ingin menimbulkan konflik karena surat ini,
karena memang lima hari sebelumnya kita sudah lumayan mual dengan konflik kecil
yang tetap saja menyakitkan. Hanya saja bolehkah aku sedikit mengingatkanmu
sayang? Maaf aku tidak bermaksud sok pintar atau merasa lebih tahu. Hanya saja,
sebagai wanita yang terlalu terbiasa denganmu, bisakah kau tidak memberi sekat
pada setiap rasa dan pikirmu?
Aku
menulis bukan untuk menerobos masuk ke golongan tertentu dan membuat sekat yang
berbeda. Pada banyak hal, aku menulis
untuk selalu merasa lebih dekat denganmu. Mungkin kau akan berpikir aku sedang
membual dan mengarang cerita sekarang. Tapi bukankah kau sendiri pernah
mengingatkan bahwa surat akan berbeda tempat dan pemaknaannya dengan sebuah
karya tulis yang lain?
Kembali
tentang aku yang menulis untuk merasa lebih dekat denganmu. Pada banyak
kesempatan, kau tak bisa meluangkan sepenuhnya waktumu untukku, dan untuk
hal-hal seperti itu, aku menulis agar tidak merasa sendiri. Kadang aku bahagia
dengan tokoh yang ku buat, alur cerita yang ku gambarkan, atau diksi yang
menari-nari dalam setiap bait tulisan. Tapi di balik rangkaian indah itu, tak
banyak yang memikirkan perasaan orang yang menciptakannya. Dan untuk semua
rangkaian cerita yang ku buat, akan selalu ada penantian panjang di sela-sela
yang begitu lebar, tentang kau dengan waktumu yang begitu mahal.
Tentu
aku tidak gila memaksamu untuk selalu menghubungiku, meluangkan banyak waktu
untukku. Kau tentu lebih tahu tentang porsi untuk wanitamu dan porsi untuk
duniamu yang lain. Tapi pada banyak hal, aku meluangkan waktu untuk menunggu
lebih lama dari siapapun. Dan untuk penantian yang lamat-lamat mebuatku bosan
itu, aku menulis lebih banyak, agar kau yang bersarang di otak juga bisa
menari-nari dengan jemariku, tertuang bersama nalarku, kemudian benar-benar
dekat dan terasa hadir dalam setiap tulisanku. Dengan begitu, aku akan merasa
selalu dekat denganmu.
Jangan
lihat aku sebagai wanita penulis cerita yang mengerikan, lantas lihat aku
sebagai aku yang kau tahu. Jika dalam suratmu kau masih saja kesal karena
perlakuanku, itu tidak menjadi masalah. Akhir-akhir ini aku memang menyebalkan,
tapi kau juga tak kalah menyebalkan. Bukan karena kesibukanmu, lebih karena
peranmu yang memang telah di takdirkan menyebalkan untuk beberapa hari yang
lalu.
Tapi
ku harap, peran menyebalkanmu itu kini sudah berakhir. Jujur aku merindukan kekasihku
yang seperti biasanya, yang tahu kapan saatnya menyakiti dan mengobati. Aku tidak
pernah berpikir untuk selalu merasa bahagia, tentu tidak. Hanya saja akan
sangat menyenangkan jika rasa sakit tidak jauh lebih luas dari perasaan bahagia
bukan?
Ku
harap kau sedang tersenyum sekarang. Karena akan sangat gersang melihat kau
dengan kening yang berkerut dan tatapan dingin yang menyebalkan itu.
Jika
ditanya bagaimana perasaanku sekarang, aku masih menjadi wanitamu yang
biasanya. Yang banyak bicara dan sering membuatmu kesal. Aku juga masih banyak
diam jika kau giring suasana untuk seperti itu. Tentu aku juga masih menjadi
wanita yang paling setia menunggu bait akhir disetiap kau menyanyikan sebuah
lagu. Yah benar-benar bait akhirnya.
Untuk
semua pengalaman baik dan tidak menyenangkan beberapa hari ini, ku ucapkan
terimakasih banyak. Tentu ucapan ini bukan karena kau menjadi guru yang baik,
hanya saja terima kasih telah menjadi kekasihku yang penyabar. Kau sering
bergurau tentang sifat penyabarmu itu, tapi untuk banyak hal kau memang
lelakiku yang penyabar. Dan untuk sedikit hal, rasanya aku juga tidak kalah
penyabar darimu.
Dari wanitamu yang teramat mudah
cemburu dengan adik-adikmu. Wassalam.
Lombok
Timur, 17 Januari 2015.
Pukul
20.27 WITA.

Komentar
Posting Komentar