Langsung ke konten utama

Cerpen: Perempuan yang Gemar Menyisir Rambut di Malam Hari




Sumber: Koran Sinar Harapan




Ia memandang heran cermin yang ada di depannya. Itu benar wajahnya, tapi cara perempuan itu memandang wajahnya seakan tidak mengenali paras cantik yang ia lihat kini. Beberapa kali alis yang tergambar di cermin itu ia lekukkan ke atas dan bawah. Mungkin ia berpikir gerakan alis itu akan sedikit terlambat dari gerakannya, sehingga ia bisa tersadar bahwa apa yang ada di depannya kini bukan ia yang sebenarnya, hanya cermin yang telat menirukan gayanya.

 
Ia mulai melepaskan ikat rambut yang menggulung rambutnya seperti konde kecil yang tersemat di belakang kepala. Rambutnya yang panjang mulai tergerai. Ia hendak menyisir rambut panjangnya dengan sisir yang biasa ia gunakan. Tapi setelah beberapa kali mencari, sisir di meja riasnya itu tak juga ia temukan. Jadilah ia menyisir rambut dengan kelima jari tangannya. Rambutnya yang lurus sedikit bergelombang karena sepanjang hari digumpalkan seperti konde.

Perempuan itu mengembangkan senyum melihat rambut hitamnya yang tergambar di cermin kini. Ia terus saja merapikan rambutnya dengan kelima jari kananya. Sesekali jari-jari kirinya juga ikut membantu membolak-balikkan rambut perempuan itu. Saat rambutnya tergerai rapi, perempuan itu seakan belum puas memainkan rambutnya. Tanpa berpikir panjang, perempuan itu kembali mengacak-ngacak rambutnya. Sekali lagi, ia tersenyum melihat rambutnya yang acak-acakan. kembali ia merapikan rambutnya dengan jari-jari tangannya. Begitu selanjutnya sampai ketukan pintu terdengar dan mengusik permainan kecil perempuan itu.

Perempuan paruh baya itu masuk setelah beberapa kali mengetuk pintu kamar anaknya. Ia menggelengkan kepala ketika melihat anak perempuannya yang kembali menggerai rambut panjangnya seraya bertatap-tatapan dengan cermin.

“Nduk nduk, sudah Ibu katakan, jangan sering nyisir di malam hari, ndak baik, memperpendek umur!”
Toh Minah nyisirnya pakai tangan bu, ndak pake sisir.”
“Sama saja, itu rambut diajak tidur saja, daripada dimain-mainkan malam hari begini.”

Perempuan paruh baya itu berlalu setelah kembali memeringati anak perempuannya untuk tidak menyisir rambutnya di malam hari. Dan kembali juga ditolak mentah-mentah oleh anak perempuannya itu.

“Umur sama nyisir apa hubungannya, toh kalau sudah ajal ya pasti akan mati,” gerutu perempuan berambut panjang yang masih saja menyisir rambutnya dengan kelima jari kanannya itu.

Suara kodok yang menyelaraskan bunyinya dengan sepi malam mulai terdengar. Kodok-kodok di sawah itu seperti mendengkur, membuat siapa pun yang mendengar suara itu tergoda hasratnya untuk tidur dan ikut mendengkur bersama irama kodok itu.

Wanita yang sedari tadi menyisir rambutnya itu mulai mengantuk. Diperbaikinya posisi bantal dan selimutnya. Rambutnya yang panjang ia ikat biasa sehingga tampak seperti ekor kuda yang rapi.

Tak lama berselang, perempuan itu mulai tidur dengan tenang. Ditemani dengkuran kodok sawah yang tepat berada di samping dan belakang rumahnya. Mungkin dengkuran kodok membuat perempuan itu terdengar sedikit mendengkur juga, ia benar-benar menikmati tidurnya, ia benar-benar menikmati lagunya bersama dengkuran hewan-hewan di sawah.
***

“Jangan nyisir terus, malam nyisir, subuh nyisir, siang nyisir, nanti rambutmu habis kalau disisir terus,” kata perempuan paruh baya itu lagi-lagi memarahi kebiasaan anaknya yang terlalu banyak menghabiskan waktunya menyisir rambut panjangnya.

Perempuan itu tetap saja diam, terlalu asyik dengan sisir yang ada di tangannya kini. Ia tidak lagi menyisir menggunakan jari-jari tangannya. Setidaknya, suara ayam yang berkokok bisa melindungi perempuan itu dari larangan ibunya untuk tidak menyisir rambut di malam hari. Tapi pagi itu ibunya masih saja memarahi perempuan yang terlalu gemar menyisir rambutnya itu.

“Kalau mau, Ibu potong saja rambut Minah, kalau rambut pendek kan jadi malas nyisirnya,” tawar perempuan itu pada ibunya.

“Heh, anak gadis mana boleh rambut pendek-pendek, semua perempuan di desa kita mana pernah kamu lihat rambutnya pendek, jangan macam-macam kamu!” jawab ibunya dengan sedikit amarah.

“Lah, potong rambut ndak boleh, nyisir rambut juga ndak boleh,” gerutu perempuan itu.

Ibunya yang mendengar gerutuan anaknya itu pura-pura tidak mendengarkan. Ia malah melanjutkan pekerjaannya di dapur tanpa berbicara sepatah pun. Perempuan itu juga tidak berniat melanjutkan perdebatannya, ia diam saja melihat ibunya yang tidak berminat lagi menghantamnya dengan peringatan-peringatan tentang menyisir rambut atau memotong rambut.

Perempuan itu masih duduk di teras rumah, memerhatikan beberapa orang yang melintas di depan rumahnya. Pandangannya mengarah pada gerombolan perempuan yang kini melintas di depannya. Perempuan-perempuan desa dengan rambut tersanggul rapi, akh itu bukan sanggul. Hanya saja mereka terlalu lihai melipat rambut panjang yang menjadi ciri khas perempuan di desa itu.

Matanya tidak beralih memerhatikan gorombolan perempuan yang baru pulang dari sungai itu. Mungkin lebih tepatnya, matanya terkunci oleh gulungan rambut perempuan-perempuan yang ada di depannya kini.

“Gulungan rambut itu terlalu menggulung kebebasanmu, kau butuh sedikit hembusan angin untuk terlihat tegar, kau butuh sedikit tergerai untuk membuktikan bahwa kau tak selemah apa yang orang pikirkan,” ucap wanita itu, mungkin lebih pada dirinya sendiri.

Malam harinya, perempuan itu kembali menggerai rambut panjangnya di depan cermin. Ia kebingungan mencari sisir yang kembali hilang di meja riasnya. Karena tidak berhasil menemukan sisirnya, perempuan itu kembali menyisir rambut panjangnya dengan jari kanannya. Dengan atau tanpa sisir tampaknya tidak mengurangi kegemaran perempuan itu menyisir rambutnya di malam hari.

Setelah puas bermain dengan rambut panjangnya, perempuan itu beranjank ke luar kamar untuk mengambil segelas air di dapur. Ketika ia kembali dari dapur dan melewati kamar ibunya, perempuan itu menghentikan langkahnya. Sudah seharian ini ia tidak melihat ibunya. Mungkin benar ibunya masih marah karena kejadian tadi pagi. Tapi tak biasanya ia marah selama ini.

Perlahan, perempuan itu membuka pintu kamar ibunya yang memang tidak pernah terkunci. Suara dengkuran kodok menemani langkah perempuan itu ketika membuka pintu kamar ibunya. Lampu kamar itu memang tidak menyala sejak pagi, entah sang ibu benar-benar tersinggung dengan ucapan perempuan itu, apa ia yang terlalu lelah dan tertidur sampai larut malam.

Perempuan itu melihat ibunya yang tertidur pulas, ia tersenyum seraya mendekati ibunya. Perempuan itu duduk di ranjang tempat ibunya tertidur. Awalnya perempuan itu menikmati air wajah ibunya yang tertidur. Tapi, suara kodok yang mendengkur seakan membuka pikiran perempuan itu. mengapa ibunya tidak juga mendengkur sedari tadi?

Agar tidak mengganggu tidur ibunya, perempuan itu perlahan meraba tangan ibunya yang tertutup selimut. Ada sisir di tangan kanan perempuan paruh baya yang tertidur itu. perempuan itu terdiam, melihat ibunya yang tertidur dengan menggenggam sisir yang biasa ia gunakan. Ibunya juga menyisir rambut?

Wajah perempuan itu tampak dingin, tak ada raut apa pun yang tergambar di sana. Hanya saja saat itu, ia terlalu menikmati diamnya. Diam menatap ibunya yang tertidur, tidur yang akan teramat panjang pikirnya.

“Jangan nyisir di malam hari buk, ndak baik, memperpendek umur..”

*Pernah terbit di Harian Sinar Harapan Maret 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Panjang: LPDP, Sebuah Keisengan, dan Takdir Tuhan yang Tidak Terbantahkan

Semasa kuliah S1, saya sudah beberapa kali coba daftar beasiswa yang ujungnya kecewa alias gak lolos-lolos. Walaupun saat itu dengan sombongnya saya ngerasa sudah memenuhi kriteria awardee . Tapi kata Tuhan, itu bukan waktu yang tepat. Jadi saya sudah kebal dengan yang namanya gagal untuk urusan beasiswa.

23 Alasan Kenapa Kamu Tidak Bisa Memilih Kabur dari PB LPDP UM 2017

Bukan perkara mudah menyukai sesuatu yang sebelumnya tidak kau kenal. Kau terlebih dahulu harus mengetahui nama, wajah, perangai, suara, kegemaran, dan lainnya. Kemudian jika sudah sampai level atas, kau akan mulai mengenal tanda-tanda kehadiran seseorang hanya dari suara batuk atau langkah kakinya. 

Cerpen: Kota Tanpa Anak-anak

Sumber gambar: www.google.com      Desa kecil itu gempar oleh suara teri a kan seorang lelaki.   L elaki itu tidak hanya berteriak, ia juga berjoget-joget mengelilingi rumah tetangganya untuk mema m erkan berita kelahiran anaknya. Tetangga-tetangganya tentu gempar, selama sepuluh tahun, akhirnya ada juga penduduk D esa A yang berhasil melahirkan anaknya dengan selamat.