Langsung ke konten utama

Sekolah: Jarak Bukan Lawan, Ia Kawan



 Sumber: Dokumentasi Sekolah

Jarak bukan pembunuh yang handal, ia mudah mati dengan semangat, pengorbanan, dan kepercayaan orang-orang yang selalu percaya pada mimpinya.
 
Di pesisir pantai, pak Burhani Sugarda tampak sedang menunggu seraya memeriksa tangki minyak perahu yang dinaiki. Kami yang saat itu baru pertama kali hendak berkunjung ke sekolah tempat bapak ini mengajar juga sudah bersiap-siap menaiki perahu. Beberapa guru yang baru datang juga dengan hangatnya menyapa. Tentu ini prtemuan pertama kami, tapi seorang guru memang selalu tahu bagaimana memperlakukan orang yang bahkan belum ia kenal dengan dekat.

Dengan berpakaian rapi, kami menaiki perahu yang bersandar di pinggir pantai. Perahu mesin perlahan menerobos air laut yang tenang, suara mesin mulai beradu dengan bau air asin. Butuh waktu sembilan menit dari pelabuhan menuju Gili Belelq. Air wajah semangat masih menghiasi beberapa guru yang tampak lengkap membawa buku pelajaran. 

Kebetulan, jumat pagi itu (19/12) udara cukup mendukung perjalanan, terlihat awan tak mendung sedikitpun. “Nah kalau hujan biasanya sering jadi masalah, kadang-kadang kami harus menunggu hujan reda dulu di pelabuhan , baru deh berani menyebrang dan datang ke sekolah,” tutur pak Burhani. “Kadang hujan itu juga yang membuat kami telat mengajar, walaupun telat tapi tet ap ngajar, ingat tanggung jawab,” tambahnya.

Sampai di Gili Beleq, Pak Buhairi dan beberapa guru yang lain berjalan kaki sekitar tujuh menit barulah sampai di tempat mengajar. Tampak siswa-siswi SDN 5 Pemongkong dan SMPN Satap Jerowaru Lombok Timur sedang bermain di lapangan, karena kebetulan hari itu tidak ada jadwal pelajaran. Siswa siswi datang ke sekolah untuk mengembalikan raport yang telah diterima sehari sebelumnya. 

Berbeda dengan sekolah biasanya, SDN 5 Pemongkong dan SMPN Satap Delapan ini memang berdiri satu atap. Tidak hanya itu, tidak sedikit dari siswa siswinya yang tidak mengenakan seragam sekolah dan sepatu. Diakui pak Burhani, hal tersebut terjadi karena banyak keluarga tidak mampu yang menyekolahkan anaknya di SDN 5 Pemongkong atau SMPN Satap Delapan. 

Waktu itu, salah satu siswa yang tidak bersepatu datang ke ruang guru, membawakan beberapa gelas susu hangat untuk kami yang sedang berbicara dengan guru-guru yang lain. Karena penasaran, kami mendekati sisiwa yang tidak bersepatu itu, kemudian menanyakan alasan mengapa kedua kakinya tidak ditutupi sepatu yang biasa dipakai anak sekolahan. “Tidak ada sepatu, lagipula kalau pakai sandal lebih praktis, waktu pulang sekolah bisa berenang pulang,” tutur siswa SMP tersebut. Siswa siswi SDN 5 Pemongkong dan SMPN Satap Delapan ini memang tidak hanya berasal dari anak-anak gili Beleq. Mereka juga berasal dari gili Rey yang letaknya cukup dekat dengan gili Beleq.

Pemerintah desa melalui program GSC (Generasi Sehat Ceria) memang pernah memberikan bantuan berupa pakaian seragam ke sekolah ini, tapi diakui pak Burhani, jumlah seragam bantuannya sangat minim. 

Berdiiri sejak tahun 1983, SDN 5 Pemongkong sekarang ini memiliki 63 siswa. Sedangkan SMPN Satap Delapan yang berdiri tahun 2008 ini memiliki 30 siswa, 11 orang siswa kelas VII, 14 orang siswa kelas VIII, dan 5 orang siswa kelas IX. Usut punya usut, siswa yang SD di tempat ini diminta melanjutkan SMPnya di tempat ini juga, karena memang jumlah siswanya yang masih minim.

Seraya menyeruput susu hangat, pak Burhani berbicara panjang tentang sekolah ini pada kami. Tentang sulitnya transportasi untuk tenaga pengajar, tentang jumlah tenaga pengajar yang masih minim sehingga beberapa guru harus mengajar rangkap dua bahkan tiga pelajaran, guna memenuhi kebutuhan pengajar untuk sekolah ini.

 Tidak hanya masalah transportasi dan guru, di kala musim ikan, siswa siswi banyak yang tidak bersekolah. Beberapa orangtua siswa biasanya meminta anaknya untuk membantu menangkap ikan di pantai. Tapi masih ada juga yang tetap bersekolah. Contohnya siswa kelas 1 SDN Pemongkong bernama Eza, Reza Mei Apendi nama lengkapnya. Dengan polos seraya meminum es bungkusnya, Eza memperlihatkan minatnya dalam bersekolah, “Liburnya kalau tanggal merah saja, kalau setiap hari selalu sekolah,” ucapnya seraya tetap meminum es bungkus di tangannya.

Minat sekolah dan prestasi siswa di SDN 5 Pemongkong dan SMPN Satap Delapan ini memang tidak bisa disepelekan. Prestasi dalam bidang akademik dan nonakademik pernah diraih oleh siswa siswi sekolah ini. Misalnya pada tahun 2013, pernah juara III olimpiade IPA tingkat kabupaten, dan masih banyak lagi.

“Disini kami tidak seperti teman, tapi keluarga,” tutur buk Rumaiyah, seorang guru honorer yang sudah lima tahun mengabdi di sekolah ini. Buk Rumaiyah harus menempuh waktu 20 menit untuk sampai di sekolah. Tapi ia menikmati perjalanannya.

Benar saja, saat lonceng pulang sekolah berbunyi, siswa dengan tertib pulang dan bersalaman pada gurunya. Siswa siswi yang berasal dari gili Rey rupanya sudah ditunggu oleh dua perahu yang mengapung di pinggir gili. Para guru juga memiliki “kendaraan dinas”, berupa sebuah perahu yang akan mengantar mereka pulang pergi dari sekolah.  Guru yang mengabdi di sekolah ini memang tidak hanya berasal dari gili Beleq. Ada yang berasal dari Jerowaru, Keruak, Janapria, Labuan Haji, dan lain-lain.

Suasana ketika perjalanan pulang itu masih sama dengan ketika guru-guru itu datang. Semangat mereka memang tak pernah berubah, karena tidak hanya udara dan trik matahari di siang itu yang mengendapkan kehangatan, tapi juga sambutan pepohonan di gili Beleq dan juga lambaian tangan siswa-siswi yang ternyata tidak hanya kita temui di pinggir jalan yang beraspal, tapi juga di pulau kecil bernama gili Beleq. Yang masih mengeluarkan asap pada cerobong di tempat terpencil, asap yang masih dan akan tetap menyimpan asa dari anak-anak berseragam di ujung timur pulau kita.

Lihatlah lambaian tangan anak-anak kecil itu. Kelak lambaian tangan itu entah akan menjadi apa, mungkin akan bergelut keras di pinggir pantai, mungkin juga akan melambai semakin jauh dan meninggalkan jejak pada salah satu sudut bumi. Kemudian dengan lantang berkata “Berawal di tempat terpencil, tidak membunuh impian kami untuk bisa hidup lebih baik dari mereka yang kakinya terlalu  malas untuk berjalan ke sekolah.”
Desember 2014
Marlinda Ramdhani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Panjang: LPDP, Sebuah Keisengan, dan Takdir Tuhan yang Tidak Terbantahkan

Semasa kuliah S1, saya sudah beberapa kali coba daftar beasiswa yang ujungnya kecewa alias gak lolos-lolos. Walaupun saat itu dengan sombongnya saya ngerasa sudah memenuhi kriteria awardee . Tapi kata Tuhan, itu bukan waktu yang tepat. Jadi saya sudah kebal dengan yang namanya gagal untuk urusan beasiswa.

23 Alasan Kenapa Kamu Tidak Bisa Memilih Kabur dari PB LPDP UM 2017

Bukan perkara mudah menyukai sesuatu yang sebelumnya tidak kau kenal. Kau terlebih dahulu harus mengetahui nama, wajah, perangai, suara, kegemaran, dan lainnya. Kemudian jika sudah sampai level atas, kau akan mulai mengenal tanda-tanda kehadiran seseorang hanya dari suara batuk atau langkah kakinya. 

Cerpen: Kota Tanpa Anak-anak

Sumber gambar: www.google.com      Desa kecil itu gempar oleh suara teri a kan seorang lelaki.   L elaki itu tidak hanya berteriak, ia juga berjoget-joget mengelilingi rumah tetangganya untuk mema m erkan berita kelahiran anaknya. Tetangga-tetangganya tentu gempar, selama sepuluh tahun, akhirnya ada juga penduduk D esa A yang berhasil melahirkan anaknya dengan selamat.